Celotehannya NggerMamonk
Berceloteh Lewat Tulisan..

Suluk Ngaca; Suluk Cerminan

Alamnya ramah, alamnya indah eyangku disana Kakekknya bercerita kepada dia sahabatku yang sampai kepadaku.

Suatu siang dia berkunjung kerumahku dengan terlebih dahulu aku dikagetkan suara telepon yg berdering. “Hallo..ya aku dirumah sendiri sekarang..datanglah sobat jika kamu hendak mampir dirumahku”. Assalamualaikum..terdengar salam dari luar rumah..”masuk saja yik” aku mempersilahkan. Sobat yang sering sekali berkunjung dan berdiskusi sekarang telah dihadapanku. Seperti biasa aku hanya isa menyuguhkan secangkir kopi hitam, “silahkan diminum yik”. Percakapan mulai mengalir, dari kerjaan,cerita mudik, humor sampai pembicaraan tentang pencerahan spiritual. “pernah kakekku bercerita pada saat lebaran kemaren” dia membuka orolan tentang pencerahan spiritual.

“oya…bagaimana ceritanya” jawabku.

————SULUK NGACA—————

Dialah Eyangku..yang hidup dahulu kala didaerah paling timur pulau bali. Disuatu kesempatan Eyangku yang juga dikenal sebagai ulama tasawuf didesa memberitahukan kepada semua orang-orang desa, katanya “siapa disini orang yang paling berani terhadap mahluk halus, setan, hantu, jin dan sebagainya ?” Semua orang terdiam dan bertanya-tanya apa maksud dari Eyang ini. “Dipertigaan jalan desa kita ini kan terkenal angker..siapa yang berani semalaman berada disana ?” lanjut Eyang menerangkan ucapannya. Semua orang pada takut, namun ada seseorang yang mengiyakan ajakan tersebut “saya…saya berani semalaman di pertigaan jalan itu”. Dia terkenal sebagai seorang pemuda yang pemberani dan sering melihat mahluk-mahluk halus itu.

Kopi hitam diangkat dan dimunum sambil menyedot sebatang rokok kretek yang sedaritadi dia bakar. Yik mulai lagi bercerita tentang Suluknya..

Menjelang malam..sipemuda dipanggil eyang untuk datang kerumahnya Eyang memberikan bekal berupa kapur yang biasa dipakai orang yang nyirih pinang. “Colekkanlah kapur ini ketubuh mahluk halus yang kamu jumpai disana” pesan eyang “Baiklah eyang” jawab pemuda pemberani itu. “Lekas pergilah kepertigaan jalan itu, mlam segera tiba” perintah eyang Berjalanlah pemuda itu menuju tempat yang diperintahkan. Malam semakin larut, suasana desa sangat hening dan sunyi senyap, gelap dan mencekam. Peralihan malam telah masuk, gerbang tengah malam telah tiba. Larut..dingin..memeluk pemuda.

Saatnya telah tiba, sipemuda mulai berjumpa dan bersua

Penglihatan pertama Harimau besar mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih kedahi siharimau

Harimau dengan tanda kapur sirih didahi sirna


Penglihatan kedua Mahluk mengerikan mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih kepipi simahluk mengerikan

Mahluk mengerikan dengan tanda kapur sirih dipipi sirna


Penglihatan ketiga Jin tanpa kepala mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih kelengan sijin tanpa kepala

Jin tanpa kepala dengan tanda kapur sirih dilengan sirna


Penglihatan keempat Rangda mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih ketubuh sirangda

Rangda dengan tanda kapur sirih ditubuh sirna


Malam mulai akan habis berganti dengan pagi

Langit memerah, subuhpun bersua

Melangkah pergi pemuda pemberani menemui eyang lagi

Berjumpa dengan eyang dan menceritakan penglihatan dan pengalamannya

“assalamualaikum eyang” salam sipemuda pemberani “walaikum salam” jawab eyang “aku telah menyelesaikannya, namun biasa saja dan tidak terjadi apa2 eyang” “sukur kepada gusti allah..karena pencerahan dan pelajaran telah diberikan padamu” jawab eyang “pelajaran apa eyang ?” bertanya sipemuda pemberani

Eyang berjalan masuk kedalam rumah sembari kembali membawa sebuah cermin. “apa yg kau lihat dan dimana kau colekkan kapur sirih itu” bertanya eyang “aku melihat macam-macam mahluk halus, mulai dari harimau besar sampai rangda” jawab pemuda “kucolekkan kapur sirih didahi sampai badan mahluk halus yang aku jumpai” lanjut pemuda itu menjelaskan “coba kemari dulu duhai anakku” perintah eyang “lihatlah cermin ini”

Sipemuda beringsut mendekati eyang dan lantas bercermin, kaget..tertegun..menggigil “aku tidak percaya..aku yakin telah mencolekkannya didahi sampai tubuh mahluk halus yang kujumpai” ucap sipemuda pemberani “begituah hakekat hidup anakku, kita bagai bercermi, apa yang kau lihat tadi malam adalah sisi gelap dirimu sendiri, pikiran kusutmu sendiri, nafsu saiton yang ada didirimu sendiri, yang diciptakan oleh ketakutanmu sendiri..sampai-sampai kamu tidak paham bahwa yang dicolek dengan kapur sirih sebenarnya adalah dirimu sendiri. kendalikanlah harimau besar, mahluk mengerikan, jin tanpa kepala, rangda yang ada dijiwamu dan hatimu dengan colekan kapur sirih keTuhanan.

Taburkanlah dan colekla semua mausia dengan kapur sirih keTuhanan, harmonilah kita hidup..tentram satu dengan yang lain…dan jangan melihat dari bentuk wujud..karena wujutnya adalah wujudmu..untuk apa saling berperang, mencaci, menjelekkan sesama..!! karena yang dijelekkan dan dicaci serta diperangi sebenarnya juga dirimu sendiri sebagaimana kau colek mahluk halus itu namun sebenarnya yangkau colek adalah dirimu sendiri yang masi diselimuti oleh nafsu” jelas eyang kepada pemuda pemberani itu. Sipemuda pemberani lemas lunglai sembari menatapi wajah dan tubuhnya dicermin yang penuh dengan colekan kapur sirih.

Mengenal akan diri sendiri…bercermin dan terus ingat dan waspada akan diri..memasuki dan merenangi samudra tanpa batas..tiada namun ada…endhi kaula endhi gusti..byarrr terang benderang..tertinggal hanya aku, diri sendiri didalam kesadaran nama dan sifatNYA.[]

nggermamonk

29jan2010

puriparamitha-bali

Satu Tanggapan ke “Suluk Ngaca; Suluk Cerminan”

  1. Dalam banget mas iwan


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.