PERDAGANGAN BEBAS DI TENGAH-TENGAH TAMAN MAWAR
oleh:nggermamonk
Suatu sore, diperumahan elit seputar Renon Denpasar, saya melihat seorang pemilik rumah mewah yang sedang santai sambil minum kopi, sedang menikmati indahnya taman mawar miliknya. Sejenak saya tertegun dan ingat akan situasi politik di Negara ini. Para elit politik yang duduk dikursi empuk dan mengemban amanat rakyat (baik elit dilingkaran istana dan dilingkaran senayan) tidak ada bedanya dengan seorang pemilik rumah mewah yang lagi duduk dengan kopi panas dan bangga melihat taman mawarnya yang sedang berbunga.
Pejabat Negara dan wakil rakyat sama-sama memegang prinsip politik taman mawar. Tidak ada didalam benaknya untuk mensejahterakan rakyat dan Negara. Masyarakat hanya dibuat domplengan guna berjalannya faham ketokohan, popularitas dan kesejahteraan pribadi. Keadilan, kesejahteraan dan kemandirian untuk rakyat hanya retorika dikalangan elit dan pemimpin negeri ini. Mereka masih berkutat seputar masalah yang sempit dan bersifat imajiner. Mereka ngotot-ngototan dan berputar-putar pada suatu keputusan yang mereka buat sendiri. Kehormatan pribadi, keluarga, citra diri dan penampilan fisik dianggap lebih penting daripada bekerja membela urusan rakyat.
Sebenarnya, rakyat hanya menuntut agar dia bisa tersenyum (hidup lebih baik) dan bukan menuntut untuk tertawa (hidup makmur). Simple bukan…..!!
Untuk menjawab tuntutan rakyat yang simple itu, dibutuhkan seorang pemimpin Negara yang berani mengambil keputusan secara tegas dan tegar seperti batu karang demi kepentngan rakyat. Rasa memiliki Negara harus tumbuh dikalangan elit. Jika rasa ini telah tertanam, maka mereka akan senantiasa akan memelihara dan menjaga mawar-mawar dikebunnya, dan bukan hanya menikmati mawar-mawar tersebut dengan rasa keakuan, santai dengan minum kopi serta menunjukkan status keakuannya.
Mawar Berduri
Abraham Lincoln pernah mengutarakan, “dalam sebuah kekuasaan harus ada sentakan. Sentakan harus terjadi, keputusan harus diambil segera”. Disini SBY lebih memilih aman ketimbang mengambil sentakan dan gesekan dengan pemodal asing. Jika harus menjadi batu karang, ya harus kuat mempertahankan hak rakyat, bukan malah kendor dan terkesan kehati-hatian untuk sebuah popularitas. Dia harus menjadi peri penolong bagi rakyat agar supaya masyarakat bisa “tersenyum”.
Dalam catatannya Budi Wardoyo–Kader Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik dan Koordinator Divisi Penyatuan Politik Komite Persiapan Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia— mengatakan: Sebagai kelanjutan dari kesepakatan perdagangan bebas 10 negara-negara ASEAN dengan CHINA yang telah ditandatangani pada tanggal 4 november 2002 di Phnom Phen-Kamboja- yang secara bertahap akan menurunkan bea masuk—hingga 0 %–semua barang dan jasa yang beredar di Kawasan ASEAN dan CHINA akan dibebaskan bea masuk, maka pada tanggal 1 januari 2010, sebanyak 7.881 pos baru akan dibebaskan bea masuknya.
Sebelumnya, baik sesama negara ASEAN—melalui AEC (ASEAN Economic Community) yang memayungi semua perjanjian perdagangan bebas ASEAN, dimana di dalamnya ada AFTA yang sekarang menjadi ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services)—maupun ACFTA (Asean China Free Trade Agreement), pos bea masuk yang dibebaskan jauh lebih banyak, bahkan dengan tambahan 7.881 pos baru yang dibebaskan, total pos tariff yang dibebaskan menjadi 54.457 (lima puluh empat ribu empat ratus lima puluh tujuh) atau 99,11 persen dari arus barang dan jasa di ASEAN.
Dalam sejarahnya FTA China dan ASEAN ( Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) merupakan FTA terbesar yang pernah ada, karena mencakup total populasi yang mencapai 1,9 miliar orang–China sendiri telah menjadi mitra dagang ketiga terbesar ASEAN dengan total nilai perdagangan sebesar 230 miliar dollar AS pada tahun 2008–
Menjadi kehebohan dimana-mana—sekalipun perdagangan bebas ini telah berlangsung lama—karena pada tahun 2010 inilah, ribuan pos bea masuk benar-benar diturunkan hingga 0 %–sebelumnya masih banyak barang dan jasa yang terkena bea masuk hingga 5-10 %, ada sebagian yang terkena bea 12,5 %– dan menjadi lebih heboh lagi, karena yang dihadapi oleh Indonesia, bukan hanya negara-negara ASEAN saja, melainkan ditambah dengan negara China, yang memilki keunggulan kuantitas dan kualitas produksi jauh di atas Indonesia.
Sebagai gambaran, untuk tekstil, sebelumnya pasar dalam negeri hanya mampu diisi oleh industri tekstil dalam negeri sebanyak 22 %, sementara 78 % adalah produk import—walaupun sebagian dari import ini dilakukan secara ilegal melalui penyelundupan—Dan dengan pembebasan tarif hingga 0 % pada tanggal 1 januari 2010 lalu, bisa dipastikan pasar dalam negeri akan semakin tergerus oleh produk import, sehingga akan banyak pabrik-pabrik tekstil yang tutup/bangkrut.
Seperti yang dinyatakan oleh APINDO Jawa Barat, bahwa potensi PHK di Jawa Barat mencapai 40000 buruh akibat ACFTA— Secara umum di Indonesia pada tahun 2008/2009 saja, sudah 429 pengusaha TPT kolaps dan lebih dari 200 industri di Indonesia yang gulung tikar akibat kalah bersaing dengan China—
Menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Putri K Wardhani ada penurunan penjualan produksi jamu dan kosmetik sekitar 50 persen, bahkan ketika tarif bea masuk masih diberlakukan 5-10 %, apalagi jika tanpa tarif bea masuk.
Berat memang untuk memelihara taman mawar itu. Namun jika seorang SBY takut untuk masuk memelihara mawar tersebut, ya jangan pernah menjadi petani mawar. Bunga mawar memang banyak durinya, seorang petani sejati, tidak akan pernah menyerah terhadap duri mawar. Walaupun duri-duri itu membuat dia berdarah-darah, namun sang petani tetap akan memperjuangkan kehidupan mawarnya supaya berbunga dengan baik.[]
Nggermamonk
28jan2010
puri paramitha-bali
