Celotehannya NggerMamonk
Berceloteh Lewat Tulisan..

Mar
31

Celotehan 31 Maret 2010

Bangun pagi rasanya lemeeess skali, tim kesayangan, dinihari tadi kena libas sama tuan rumah. Bela-belain begadang buat nonton Munchen vs Man Utd di ajang Liga Champion. Berharap menang buat tim kesayangaan Man Utd, eee malah digilas dengan skor 2-1 untuk kemenangan tuan rumah Munchen. Padahal sudah seneng banget waktu gol dimenit-menit awal babak pertama. Teriakan “goooolll” sampai bangunin orang yang lagi tidur. Selanjutnya, diem dan melempem seperti kerupuk yang kena angin selama tiga hari. Wkakakaka, bola memang bundar (kalo kotak aneh dech sepertinya), biar timnya berharap dan komat-kamit untuk menang namun bolanya nggak berpihak sama tim kesayanganku, mau bilang apa? Mau digembesin bolanya? Lucu, lawong nontonya di TV. Mau diancurin TVnya? Guoblognya nggak ketulungan, TV cuman ada satu-satunya. Sudahlah, masih ada pertandingan berikutnya dikandang sendiri. Musti MENANG MAN UTD!.

Sepertinya aku mendengar suara gesekan antara benda yang memiliki rambut banyak sekali sama lantai ini. Hahhh…aku ketiduran dilantai depan TV rupanya! Dan sementara mataku masih enggan terbuka, aku melihat benda yang menggesek-gesek dilantai datang menghampiriku. Sapu…ya sapu itu mendekati aku yang lagi tergeletak dilantai dengan mata sedikit terbuka dan iler yang mengering dipipi dengan aroma yang tidak begitu bersahabat dengan hidungku. Astaga, semakin mendekat rupanya barang pembersih itu. Cepat-cepat aku menghindar, bangun dengan sedikit melompat kebelakang dan mengambil posisi kuda-kuda jongkok. Jurus kerbau membajak nyaris aku keluarkan, tapi urung terlaksana, karena ada yang lebih mengerikan dibanding sapu pembersih lantai itu. “Ayah cepat mandi, kesiangan terus, mangkanya jangan BEGADANG!” Wooow ternyata suara mantan pacarku yang lagi nyapu ruang keluarga sedang berada tepat dihadapanku yang masih kucel ini. Dengan lemas (padahal uda mirip pendekar) aku melangkah kekamar mandi dengan handuk dikalungkan keleher.

Didalam kamar mandi, sambil melucuti satu persatu pakaian yang melekat dibadan, pikiran masih melayang mengingat pertandingan sepak bola tadi malam dan tragedi sapu ijuk barusan. Byarrr, lamunan hancur seiring tangan ini mulai memelorotkan kain yang tinggal satu-satunya menempel dibadan dan dibawah perut. Apalagi kalau bukan CELANA DALAM alias “CD”. Sekarang aku didalam kamar mandi sudah benar-benar tanpa busana selembarpun alias “TIIIITTTTTTTT…….” (maaf, sensor karena terlalu privasi dan melanggar UU Pornografi).

Sehabis mandi, aku tolong ibu membersihkan tempat tidurku (seperti lirik lagu apa ya?). Pakaian rapi sudah kukenakan, tidak lupa mengoleskan deodorant ke kedua sudut lipatan antara pangkal lengan dengan badan seputar dada bagian samping (ribet amat kalimatnya, bilang aja KETEK napa..!). Setelah rapi dan harum, seperti biasa, aku menemani anakku dan istri yang lagi sarapan sambil nonton TV. Kopi hitam hangat telah tersedia. Sedikit-demi sedikit aku minum sampai anakku dan istriku selesai sarapan. Ngobrol ngalor-ngidul terjadi, muali dari A sampai Z dibicarakan diruang keluarga ini. Setelah selesai semuanya, istriku beranjak pergi kerja. Maklum dia wanita karir, dan aku tidak pernah melarang dia untuk berkarya (itung-itung nambah uang belanja). Dan saat itulah kami berdua mulai melangkah menuju aktivitas kerja masing-masing.

Sampai ditempat kerjaku, sambil ngisi kekosongan (maklum wiraswasta, jadi kerjanya suka-suka aku saja), iseng aku ketak-ketik kejadian semalam dan sampai saat makan siang ini. Maunya sih buat catatan pribadi saja, eh tau setan apa yg menghasut untuk mempostingkan celotehan ngak karuan ini keblog dan FB ku. Ya sudah, aku posting saja dan kalian semua selamat mebaca serta mengomentarinya. Sekian dulu ya, soalnya aku mo makan siang. Lain kali aku tulis lagi celotehan hari-hariku. []

Iwan Mamonk
31 maret 2010
denpasar-bali
SESAMA DJAYA

Feb
24

ANDREAS HARSONO
(www.pantau.or.id)

“Kovach dan Rosenstiel berpendapat jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi.”

HATI nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach. Ini ungkapan yang sering dipakai orang bila bicara soal Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya “karir panjang dan terhormat” sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach.

Wartawan yang nyaris tanpa cacat itulah yang menulis buku The Elements of Journalism bersama rekannya Tom Rosenstiel. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di sebuah suratkabar kecil sebelum bergabung dengan The New York Times, salah satu suratkabar terbaik di Amerika Serikat, dan membangun karirnya selama 18 tahun di sana.

Kovach mundur ketika ditawari jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution. Di bawah kepemimpinannya, harian ini berubah jadi suratkabar yang bermutu. Hanya dalam dua tahun, Kovach membuat harian ini mendapatkan dua Pulitzer Prize, penghargaan bergengsi dalam jurnalisme Amerika. Total dalam karirnya, Kovach menugaskan dan menyunting lima laporan yang mendapatkan Pulitzer Prize. Pada 1989-2000 Kovach jadi kurator Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard yang tujuannya meningkatkan mutu jurnalisme.

Sedangkan Tom Rosentiel adalah mantan wartawan harian The Los Angeles Times spesialis media dan jurnalisme. Kini sehari-harinya Rosenstiel menjalankan Committee of Concerned Journalists –sebuah organisasi di Washington D.C. yang kerjanya melakukan riset dan diskusi tentang media.

Dalam buku ini Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun.

Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Tapi Kovach dan Rosenstiel menempatkan elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, paling membingungkan.

Kebenaran yang mana? Bukankan kebenaran bisa dipandang dari kacamata yang berbeda-beda? Tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat punya dasar pemikiran tentang kebenaran yang belum tentu persis sama satu dengan yang lain. Sejarah pun sering direvisi. Kebenaran menurut siapa?

Bagaimana dengan bias seorang wartawan? Tidakkah bias pandangan seorang wartawan, karena latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agamanya, bisa membuat si wartawan menghasilkan penafsiran akan kebenaran yang berbeda-beda?

Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional.

Namun apa yang dianggap kebenaran ini senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Hakim bisa keliru. Pelajaran sejarah, fisika, biologi, bisa salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi.

Hal ini pula yang dilakukan jurnalisme. Bukan kebenaran dalam tataran filosofis. Tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang lancar. Orang butuh informasi harga, kurs mata uang, ramalan cuaca, hasil pertandingan bola dan sebagainya.

Selain itu kebenaran yang diberitakan media dibentuk lapisan demi lapisan. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Di mana, jam berapa, jenis kendaraannya apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain. Mungkin polisi, mungkin keluarga korban. Mungkin ada koreksi. Maka pada hari ketiga, koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah ketika ada pembaca mengirim surat pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini. Demikian seterusnya.

Jadi kebenaran dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibaratnya stalagmit, tetes demi tetes kebenaran itu membentuk stalagmit yang besar. Makan waktu, prosesnya lama. Tapi dari kebenaran sehari-hari ini pula terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap.

Saya pribadi beruntung mengenal Kovach ketika saya mendapat kesempatan ikut program Nieman Fellowship pada 1999-2000 di mana Kovach jadi kuratornya. Di sana Kovach melatih wartawan-wartawan dari berbagai belahan dunia untuk lebih memahami pilihan-pilihan mereka dalam jurnalisme. Tekanannya jelas: memilih kebenaran!

Tapi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah saja tak cukup. Kovach dan Rosenstiel menerangkan elemen kedua dengan bertanya, “Kepada siapa wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?”

Pertanyaan itu penting karena sejak 1980-an banyak wartawan Amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme.

Ini memprihatinkan karena wartawan punya tanggungjawab sosial yang tak jarang bisa melangkahi kepentingan perusahaan di mana mereka bekerja. Walau pun demikian, dan di sini uniknya, tanggungjawab itu sekaligus adalah sumber dari keberhasilan perusahaan mereka. Perusahaan media yang mendahulukan kepentingan masyarakat justru lebih menguntungkan ketimbang yang hanya mementingkan bisnisnya sendiri.

Mari melihat dua contoh. Pada 1893 seorang pengusaha membeli harian The New York Times. Adolph Ochs percaya bahwa penduduk New York capek dan tak puas dengan suratkabar-suratkabar kuning yang kebanyakan isinya sensasional. Ochs hendak menyajikan suratkabar yang serius, mengutamakan kepentingan publik dan menulis, “… to give the news impartiality, without fear or favor, regardless of party, sect or interests involved.”

Pada 1933 Eugene Meyer membeli harian The Washington Post dan menyatakan di halaman suratkabar itu, “Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.”

Prinsip Ochs dan Meyer terbukti benar. Dua harian itu menjadi institusi publik yang prestisius sekaligus bisnis yang menguntungkan.

Kovach dan Rosenstiel khawatir banyaknya wartawan yang mengurusi bisnis bisa mengaburkan misi media dalam melayani kepentingan masyarakat. Bisnis media beda dengan bisnis kebanyakan. Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Sisi pertama adalah pembaca, pemirsa, atau pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan. Sisi ketiga adalah masyarakat (citizens).

Berbeda dengan kebanyakan bisnis, dalam bisnis media, pemirsa, pendengar, atau pembaca bukanlah pelanggan (customer). Kebanyakan media, termasuk televisi, radio, maupun dotcom, memberikan berita secara gratis. Orang tak membayar untuk menonton televisi, membaca internet, atau mendengarkan radio. Bahkan dalam bisnis suratkabar pun, kebanyakan pembaca hanya membayar sebagian kecil dari ongkos produksi. Ada subsidi buat pembaca.

Adanya kepercayaan publik inilah yang kemudian “dipinjamkan” perusahaan media kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini pemasang iklan memang pelanggan. Tapi hubungan ini seyogyanya tak merusak hubungan yang unik antara media dengan pembaca, pemirsa, dan pendengarnya.

Kovach dan Rosenstiel prihatin karena banyak media Amerika mengkaitkan besarnya bonus atau pendapatan redaktur mereka dengan besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan bersangkutan. Sebuah survei menemukan, 71 persen redaktur Amerika menerapkan sebuah gaya manajemen yang biasa disebut management by objections.

Model ini ditemukan oleh guru manajemen Peter F. Drucker. Idenya sederhana sebenarnya. Para manajer diminta menentukan target sekaligus imbalan bila mereka berhasil mencapainya.

Manajemen model ini, menurut Kovach dan Rosenstiel, bisa mengaburkan tanggungjawab sosial para redaktur. Mengkaitkan pendapatan seorang redaktur dengan penjualan iklan atau keuntungan perusahaan sangat mungkin untuk mengingkari prinsip loyalitas si redaktur terhadap masyarakat. Loyalitas mereka bisa bergeser pada peningkatan keuntungan perusahaan karena dari sana pula mereka mendapatkan bonus.

BANYAK wartawan mengatakan The Elements of Journalism perlu untuk dipelajari orang media. Suthichai Yoon, redaktur pendiri harian The Nation di Bangkok, menulis bahwa renungan dua wartawan “yang sudah mengalami pencerahan” ini perlu dibaca wartawan Thai.

I Made Suarjana dari tim pendidikan majalah Gatra mengatakan pada saya bahwa Gatra sedang menterjemahkan buku ini buat keperluan internal mereka, “Buku ini kita pandang mengembalikan pada basic jurnalisme,” kata Suarjana.

Salah satu bagian penting buku ini adalah penjelasan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang elemen ketiga. Mereka mengatakan esensi dari jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.

Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni.

Mereka berpendapat, “saudara sepupu” hiburan yang disebut infotainment (dari kata information dan entertainment) harus dimengerti wartawan agar tahu mana batas-batasnya. Infotainment hanya terfokus pada apa-apa yang menarik perhatian pemirsa dan pendengar. Jurnalisme meliput kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak.

Batas antara fiksi dan jurnalisme memang harus jelas. Jurnalisme tak bisa dicampuri dengan fiksi setitik pun. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh pengalaman Mike Wallace dari CBS yang difilmkan dalam The Insider. Film ini bercerita tentang keengganan jaringan televisi CBS menayangkan sebuah laporan tentang bagaimana industri rokok Amerika memakai zat kimia tertentu buat meningkatkan kecanduan perokok.

Kejadian itu sebuah fakta. Namun Wallace keberatan karena ada kata-kata yang diciptakan dan seolah-olah diucapkan Wallace. Sutradara Michael Mann mengatakan film itu “pada dasarnya akurat” karena Wallace memang takluk pada tekanan pabrik rokok. Jika kata-kata diciptakan atau motivasi Wallace berbeda antara keadaan nyata dan dalam film, Mann berpendapat itu bisa diterima.

Kovach dan Rosenstiel mengatakan dalam kasus itu keterpaduan (utility) jadi nilai tertinggi ketimbang kebenaran harafiah. Fakta disubordinasikan kepada kepentingan fiksi. Mann membuat film itu dengan tambahan drama agar menarik perhatian penonton.

Lantas bagaimana dengan beragamnya standar jurnalisme? Tidakkah disiplin tiap wartawan dalam melakukan verifikasi bersifat personal? Kovach dan Ronsenstiel menerangkan memang tak setiap wartawan punya pemahaman yang sama. Tidak setiap wartawan tahu standar minimal verifikasi. Susahnya, karena tak dikomunikasikan dengan baik, hal ini sering menimbulkan ketidaktahuan pada banyak orang karena disiplin dalam jurnalisme ini sering terkait dengan apa yang biasa disebut sebagai objektifitas.

Orang sering bertanya apa objektifitas dalam jurnalisme itu? Apakah wartawan bisa objektif? Bagaimana dengan wartawan yang punya latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, kewarganegaraan, etnik, agama dan pengalaman pribadi yang nilai-nilainya berbeda dengan nilai dari peristiwa yang diliputnya?

Kovach dan Rosenstiel menjelaskan, pada abad XIX tak mengenal konsep objektifitas itu. Wartawan zaman itu lebih sering memakai apa yang disebut sebagai realisme. Mereka percaya bila seorang reporter menggali fakta-fakta dan menyajikannya begitu saja maka kebenaran bakal muncul dengan sendirinya.

Ide tentang realisme ini muncul bersamaan dengan terciptanya struktur karangan yang disebut sebagai piramida terbalik di mana fakta yang paling penting diletakkan pada awal laporan, demikian seterusnya, hingga yang paling kurang penting. Mereka berpendapat struktur itu membuat pembaca memahami berita secara alamiah.

Namun pada awal abad XX beberapa wartawan khawatir dengan naifnya realisme ini. Pada 1919 Walter Lippmann dan Charles Merz, dua wartawan terkemuka New York, menulis sebuah analisis tentang bagaimana latar belakang kultural The New York Times menimbulkan distorsi pada liputannya tentang revolusi Rusia. The New York Times lebih melaporkan tentang apa yang diharapkan pembaca ketimbang melaporkan apa yang terjadi.

Lippmann menekankan, jurnalisme tak cukup hanya dilaporkan oleh “saksi mata yang tak terlatih.” Niat baik atau usaha yang jujur juga tak cukup. Lippmann mengatakan inovasi baru pada zaman itu, misalnya bylines atau kolumnis, juga tidak cukup.

Bylines diciptakan agar nama setiap reporter diketahui publik yang bakal mendorong si reporter bekerja lebih baik karena namanya terpampang jelas. Kolumnis adalah wartawan atau penulis senior yang tugasnya menerangkan suatu peristiwa dengan konteks yang lebih luas yang mungkin tak bisa dilaporkan reporter yang sibuk bekerja di lapangan.

Solusinya, menurut Lippmann, wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan, “There is but one kind of unity possible in a world as diverse as ours. It is unity of method, rather than aim; the unity of disciplined experiement (Ada satu hal yang bisa disatukan dalam kehidupan yang berbeda-beda ini. Hal itu adalah keseragaman dalam mengembangkan metode, ketimbang sebagai tujuan; seragamnya metode yang ditarik dari pengalaman di lapangan).”

Baginya, metode jurnalisme bisa objektif. Tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektifitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi.

Sayang, dengan berjalannya waktu, pemahaman orisinal terhadap objektifitas ini diartikan keliru. Banyak penulis seperti Leo Rosten, yang mengarang sebuah buku sosiologi tentang wartawan, memakai istilah objektifitas buat merujuk pada pemahaman bahwa wartawan itu seyogyanya objektif.

Saya kira di Indonesia juga banyak dosen-dosen komunikasi yang berpikir ala Rosten. Ini membingungkan. Para wartawan pun, pada gilirannya, ikut meragukan pengertian objektif dan menganggapnya sebagai ilusi.

Bagaimana metode yang objektif itu bisa dilakukan? Kovach dan Rosenstiel menerangkan betapa kebanyakan wartawan hanya mendefinisikan hanya sebagai dengan liputan yang berimbang (balance), fairness serta akurat.

Tapi berimbang maupun fairness adalah metode. Bukan tujuan. Keseimbangan bisa menimbulkan distorsi bila dianggap sebagai tujuan. Kebenaran bisa kabur di tengah liputan yang berimbang. Fairness juga bisa disalahmengerti bila ia dianggap sebagai tujuan. Fair terhadap sumber atau fair terhadap pembaca?

Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi:

- Jangan menambah atau mengarang apa pun;
- Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar;
- Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase;
- Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri;
- Bersikaplah rendah hati.

Kovach dan Rosenstiel tak berhenti hanya pada tataran konsep. Mereka juga menawarkan metode yang kongkrit dalam melakukan verifikasi itu. Pertama, penyuntingan secara skeptis. Penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat, dengan sikap skeptis. Banyak pertanyaan, banyak gugatan.

Kedua, memeriksa akurasi. David Yarnold dari San Jose Mercury News mengembangkan satu daftar pertanyaan yang disebutnya “accuracy checklist.”

- Apakah lead berita sudah didukung dengan data-data penunjang yang cukup?
- Apakah sudah ada orang lain yang diminta mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web yang ada dalam laporan tersebut? Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan?
- Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap?
- Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara?
- Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak? Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar?
- Apa ada yang kurang?
- Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya? Apakah kutipan-kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan?

Ketiga, jangan berasumsi. Jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Wartawan harus mendekat pada sumber-sumber primer sedekat mungkin. David Protess dari Northwestern University memiliki satu metode. Dia memakai tiga lingkaran yang konsentris. Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam adalah saksi mata.

Metode keempat, pengecekan fakta ala Tom French yang disebut Tom French’s Colored Pencil. Metode ini sederhana. French, seorang spesialis narasi panjang nonfiksi dari suratkabar St. Petersburg Times, Florida, memakai pensil berwarna untuk mengecek fakta-fakta dalam karangannya, baris per baris, kalimat per kalimat.

MUSIM dingin tahun lalu ketika salju membasahi Cambridge, saya sempat berbincang-bincang dengan Bill Kovach tentang hubungan wartawan dan sumbernya. Saya katakan, pernah ketika mengerjakan suatu liputan, secara tak sengaja, keluarga saya berhubungan cukup dekat dengan keluarga orang yang diwawancarai.

Kami diskusikan masalah itu. Singkat kata Kovach mengatakan, bahwa seorang wartawan “tidak mencari teman, tidak mencari musuh.” Terkadang memang sulit menerima tawaran jasa baik, misalnya diantar pulang ketika kesulitan cari taksi, tapi juga tak perlu datang ke acara-acara sosial di mana independensi wartawan bisa salah dimengerti orang karena ada saja pertemanan yang terbentuk lewat acara-acara itu.

“Seorang wartawan adalah mahluk asosial. Don’t get me wrong,” kata Kovach. Asosial bukan antisosial.

Ini sedikit menjelaskan elemen keempat: independensi. Kovach dan Rosenstiel berpendapat, wartawan boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini (tidak dalam berita). Mereka tetap dibilang wartawan walau menunjukkan sikapnya dengan jelas.

Kalau begitu wartawan boleh tak netral?

Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Impartialitas juga bukan yang dimaksud dengan objektifitas. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput.

Jadi, semangat dan pikiran untuk bersikap independen ini lebih penting ketimbang netralitas. Namun wartawan yang beropini juga tetap harus menjaga akurasi dari data-datanya. Mereka harus tetap melakukan verifikasi, mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati seorang wartawan.

“Wartawan yang menulis kolom memang punya sudut pandangnya sendiri …. Tapi mereka tetap harus menghargai fakta di atas segalanya,” kata Anthony Lewis, kolumnis The New York Times.

Menulis kolom ibaratnya, menurut Maggie Galagher dari Universal Press Syndicate, “bicara dengan seseorang yang tak setuju dengan saya.”

Tapi wartawan yang menulis opini tetap tak diharapkan menulis tentang sesuatu dan ikut jadi pemain. Ini membuat si wartawan lebih sulit untuk melihat dengan perspektif yang berbeda. Lebih sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak lain. Lebih sulit lagi menyakinkan masyarakat bahwa si wartawan meletakkan kepentingan mereka lebih dulu ketimbang kepentingan kelompok di mana si wartawan ikut bermain.

Kesetiaan pada kebenaran inilah yang membedakan wartawan dengan juru penerangan atau propaganda. Kebebasan berpendapat ada pada setiap orang. Tiap orang boleh bicara apa saja walau isinya propaganda atau menyebarkan kebencian. Tapi jurnalisme dan komunikasi bukan hal yang sama.

Independensi ini juga yang harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang wartawan. Ada wartawan yang beragama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, berkulit putih, keturunan Asia, keturunan Afrika, Hispanik, cacat, laki-laki, perempuan, dan sebagainya. Mereka, bukan pertama-tama, orang Kristen dan kedua baru wartawan.

Latar belakang etnik, agama, ideologi, atau kelas, ini seyogyanya dijadikan bahan informasi buat liputan mereka. Tapi bukan dijadikan alasan untuk mendikte si wartawan. Kovach dan Rosenstiel juga percaya, ruang redaksi yang multikultural bakal menciptakan lingkungan yang lebih bermutu secara intelektual ketimbang yang seragam.

Bersama-sama wartawan dari berbagai latar ini menciptakan liputan yang lebih kaya. Tapi sebaliknya, keberagaman ini tak bisa diperlakukan sebagai tujuan. Dia adalah metode buat menghasilkan liputan yang baik.

ELEMEN jurnalisme yang kelima adalah memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan bukan berarti melukai mereka yang hidupnya nyaman. Mungkin kalau dipakai istilah Indonesianya, “jangan cari gara-gara juga.” Memantau kekuasaan dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi.

Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting –sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan.

Sayangnya di Amerika Serikat, saya kira juga di Indonesia, label investigasi sering dijadikan barang dagangan. Kovach dan Rosenstiel menceritakan bagaimana radio-radio di sana menyiarkan rumor dan dengan seenaknya mengatakan mereka melakukan investigasi. Susahnya, para pendengar, pemirsa, dan pembaca juga tak tahu apa investigasi itu.

Salah satu konsekuensi dari investigasi adalah kecenderungan media bersangkutan mengambil sikap terhadap isu di mana mereka melakukan investigasi. Ada yang memakai istilah advocacy reporting buat mengganti istilah investigative reporting karena adanya kecenderungan ini. Padahal hasil investigasi bisa salah. Dan dampak yang timbul besar sekali. Bukan saja orang-orang yang didakwa dibuat menderita tapi juga reputasi media bersangkutan bisa tercemar serius. Mungkin karena risiko ini, banyak media besar serba tanggung dalam melakukan investigasi. Mereka lebih suka memperdagangkan labelnya saja tapi tak benar-benar masuk ke dalam investigasi.

Bob Woodward dari The Washington Post, salah satu wartawan yang investigasinya ikut mendorong mundurnya Presiden Richard Nixon karena skandal Watergate pada 1970-an, mengatakan salah satu syarat investigasi adalah “pikiran yang terbuka.”

Elemen keenam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kovach dan Rosenstiel menerangkan zaman dahulu banyak suratkabar yang menjadikan ruang tamu mereka sebagai forum publik di mana orang-orang bisa datang, menyampaikan pendapatnya, kritik, dan sebagainya. Di sana juga disediakan cerutu serta minuman.

Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Bila media melaporkan, katakanlah dari jadwal-jadwal acara hingga kejahatan publik hingga timbulnya suatu trend sosial, jurnalisme ini menggelitik rasa ingin tahu orang banyak. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan-laporan itu maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar –mungkin lewat program telepon di radio, lewat talk show televisi, opini pribadi, surat pembaca, ruang tamu suratkabar dan sebagainya. Pada gilirannya, komentar-komentar ini didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani kuno, lewat forum inilah demokrasi ditegakkan.

Sekarang teknologi modern membuat forum ini lebih bertenaga. Sekarang ada siaran langsung televisi maupun chat room di internet. Tapi kecepatan yang menyertai teknologi baru ini juga meningkatkan kemampuan terjadinya distorsi maupun informasi yang menyesatkan yang potensial merusak reputasi jurnalisme.

Kovach dan Rosenstiel berpendapat jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi.

Munculnya jurnalisme semu itu terjadi karena debatnya tak dibuat berdasarkan fakta-fakta secara memadai. “Talk is cheap,” kata Kovach dan Rosenstiel. Biaya produksi sebuah talk show kecil sekali dibandingkan biaya untuk membangun infrastruktur reportase. Sebuah media yang hendak membangun infrastruktur reportase bukan saja harus menggaji puluhan, bahkan ratusan wartawan, tapi juga membiayai operasi mereka. Belum lagi bila media bersangkutan hendak membuka biro-biro baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ngomong itu murah. Mendapatkan komentar-komentar lewat telepon dan disiarkan secara langsung sangat jauh lebih murah ketimbang melakukan reportase.

Jurnalisme semu juga muncul karena gaya lebih dipentingkan ketimbang esensi. Jurnalisme semu pada gilirannya membahayakan demokrasi karena ia bukannya memperlebar nuansa suatu perdebatan tapi lebih memfokuskan dirinya pada isu-isu yang sempit, yang terpolarisasi. Buntutnya, upaya mencari kompromi, sesuatu yang esensial dalam demokrasi, juga tak terbantu oleh jurnalisme macam ini. Jurnalisme semu tak memberikan pencerahan tapi malah mengajak orang berkelahi lebih sengit.

SELAMA dua semester mengikuti program Nieman Fellowship, Bill Kovach mengusulkan agar kami ikut suatu kelas tentang penulisan nonfiksi. Dia menekankan perlunya wartawan belajar menulis narasi karena kekuatan jurnalisme cetak sangat ditentukan oleh kemampuan ini. Saya mengikuti nasehat Kovach dan belajar tentang suatu genre yang disebut narrative report atau jurnalisme kesastraan.

Anjuran itu sesuai dengan elemen ketujuh bahwa jurnalisme harus memikat sekaligus relevan. Mungkin meminjam motto majalah Tempo jurnalisme itu harus “enak dibaca dan perlu.” Selama mengikuti kelas narasi itu, saya belajar banyak tentang komposisi, tentang etika, tentang naik-turunnya emosi pembaca dan sebagainya.

Memikat sekaligus relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolakbelakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan.

Padahal bukti-bukti cukup banyak, bahwa masyarakat mau keduanya. Orang membaca berita olah raga tapi juga berita ekonomi. Orang baca resensi buku tapi juga mengisi teka-teki silang. Majalah The New Yorker terkenal bukan saja karena kartun-kartunnya yang lucu, tapi juga laporan-laporannya yang panjang dan serius.

Kovach dan Rosenstiel mengatakan wartawan macam itu pada dasarnya malas, bodoh, bias, dan tak tahu bagaimana harus menyajikan jurnalisme yang bermutu.

Menulis narasi yang dalam, sekaligus memikat, butuh waktu lama. Banyak contoh bagaimana laporan panjang dikerjakan selama berbulan-bulan terkadang malah bertahun-tahun. Padahal waktu adalah sebuah kemewahan dalam bisnis media.

Di sisi lain, daya tarik hiburan memang luar biasa. Pada 1977 kulit muka majalah Newsweek dan Time 31 persen diisi gambar tokoh politik atau pemimpin internasional serta 15 persen diilustrasikan oleh bintang hiburan. Pada 1997, kulit muka kedua majalah internasional ini mengalami penurunan 60 persen dalam hal tokoh politik. Sedangkan 40 persen diisi oleh bintang hiburan.

Duet Kovach-Rosenstiel sebelumnya menerbitkan buku Warp Speed: American in the Age of Mixed Media di mana mereka melakukan analisis yang tajam terhadap liputan media Amerika atas skandal Presiden Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Kebanyakan media suka menekankan pada sisi sensasi dari skandal itu ketimbang isu yang lebih relevan.

Elemen kedelapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Mungkin kalau di Jakarta contoh terbaik adalah harian Rakyat Merdeka. Suratkabar macam ini seringkali tidak proporsional dalam pemberitaannya.

Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh yang menarik. Suratkabar sensasional diibaratkan seseorang yang ingin menarik perhatian pembaca dengan pergi ke tempat umum lalu melepas pakaian, telanjang. Orang pasti suka dan melihatnya. Pertanyaannya adalah bagaimana orang telanjang itu menjaga kesetiaan pemirsanya?

Ini berbeda dengan pemain gitar. Dia datang ke tempat umum, memainkan gitar, dan ada sedikit orang yang memperhatikan. Tapi seiring dengan kualitas permainan gitarnya, makin hari makin banyak orang yang datang untuk mendengarkan. Pemain gitar ini adalah contoh suratkabar yang proporsional.

Proporsional serta komprehensif dalam jurnalisme memang tak seilmiah pembuatan peta. Berita mana yang diangkat, mana yang penting, mana yang dijadikan berita utama, penilaiannya bisa berbeda antara si wartawan dan si pembaca. Pemilihan berita juga sangat subjektif. Kovach dan Rosenstiel bilang justru karena subjektif inilah wartawan harus senantiasa ingat agar proporsional dalam menyajikan berita.

Masyarakat bisa tahu kalau si wartawan mencoba proporsional atau tidak. Sebaliknya masyarakat juga tahu kalau si wartawan cuma mau bertelanjang bulat.

SETIAP wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Dari ruang redaksi hingga ruang direksi, semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. Ini elemen yang kesembilan.

“Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya,” kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A&E Network.

Menjalankan prinsip itu tak mudah karena diperlukan suasana kerja yang nyaman, yang bebas, di mana setiap orang dirangsang untuk bersuara. “Bos, saya kira keputusan Anda keliru!” atau “Pak, ini kok kesannya rasialis” adalah dua contoh kalimat yang seyogyanya bisa muncul di ruang redaksi.

Menciptakan suasana ini tak mudah karena berdasarkan kebutuhannya, ruang redaksi bukanlah tempat di mana demokrasi dijalankan. Ruang redaksi bahkan punya kecenderungan menciptakan kediktatoran. Seseorang di puncak organisasi media memang harus bisa mengambil keputusan –menerbitkan atau tidak menerbitkan sebuah laporan, membiarkan atau mencabut sebuah kutipan yang panas—agar media bersangkutan bisa menepati deadline.

Membolehkan tiap individu wartawan menyuarakan hati nurani pada dasarnya membuat urusan manajemen jadi lebih kompleks. Tapi tugas setiap redaktur untuk memahami persoalan ini. Mereka memang mengambil keputusan final tapi mereka harus senantiasa membuka diri agar tiap orang yang hendak memberi kritik atau komentar bisa datang langsung pada mereka.

Bob Woodward dari The Washington Post mengatakan, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.”

Pada hari pertama Nieman Fellowship, Bill Kovach mengatakan pada 24 peserta program itu bahwa pintunya selalu terbuka. Terkadang dia sering harus mengejar deadline dan mengetik, “Raut wajah saya bisa galak sekali bila seseorang muncul di pintu saya. Tapi jangan digubris. Masuk dan bicaralah.”

*Dari Notes AHMAD YULDEN ERWIN di FACE BOOK*

Jan
29

Alamnya ramah, alamnya indah eyangku disana Kakekknya bercerita kepada dia sahabatku yang sampai kepadaku.

Suatu siang dia berkunjung kerumahku dengan terlebih dahulu aku dikagetkan suara telepon yg berdering. “Hallo..ya aku dirumah sendiri sekarang..datanglah sobat jika kamu hendak mampir dirumahku”. Assalamualaikum..terdengar salam dari luar rumah..”masuk saja yik” aku mempersilahkan. Sobat yang sering sekali berkunjung dan berdiskusi sekarang telah dihadapanku. Seperti biasa aku hanya isa menyuguhkan secangkir kopi hitam, “silahkan diminum yik”. Percakapan mulai mengalir, dari kerjaan,cerita mudik, humor sampai pembicaraan tentang pencerahan spiritual. “pernah kakekku bercerita pada saat lebaran kemaren” dia membuka orolan tentang pencerahan spiritual.

“oya…bagaimana ceritanya” jawabku.

————SULUK NGACA—————

Dialah Eyangku..yang hidup dahulu kala didaerah paling timur pulau bali. Disuatu kesempatan Eyangku yang juga dikenal sebagai ulama tasawuf didesa memberitahukan kepada semua orang-orang desa, katanya “siapa disini orang yang paling berani terhadap mahluk halus, setan, hantu, jin dan sebagainya ?” Semua orang terdiam dan bertanya-tanya apa maksud dari Eyang ini. “Dipertigaan jalan desa kita ini kan terkenal angker..siapa yang berani semalaman berada disana ?” lanjut Eyang menerangkan ucapannya. Semua orang pada takut, namun ada seseorang yang mengiyakan ajakan tersebut “saya…saya berani semalaman di pertigaan jalan itu”. Dia terkenal sebagai seorang pemuda yang pemberani dan sering melihat mahluk-mahluk halus itu.

Kopi hitam diangkat dan dimunum sambil menyedot sebatang rokok kretek yang sedaritadi dia bakar. Yik mulai lagi bercerita tentang Suluknya..

Menjelang malam..sipemuda dipanggil eyang untuk datang kerumahnya Eyang memberikan bekal berupa kapur yang biasa dipakai orang yang nyirih pinang. “Colekkanlah kapur ini ketubuh mahluk halus yang kamu jumpai disana” pesan eyang “Baiklah eyang” jawab pemuda pemberani itu. “Lekas pergilah kepertigaan jalan itu, mlam segera tiba” perintah eyang Berjalanlah pemuda itu menuju tempat yang diperintahkan. Malam semakin larut, suasana desa sangat hening dan sunyi senyap, gelap dan mencekam. Peralihan malam telah masuk, gerbang tengah malam telah tiba. Larut..dingin..memeluk pemuda.

Saatnya telah tiba, sipemuda mulai berjumpa dan bersua

Penglihatan pertama Harimau besar mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih kedahi siharimau

Harimau dengan tanda kapur sirih didahi sirna


Penglihatan kedua Mahluk mengerikan mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih kepipi simahluk mengerikan

Mahluk mengerikan dengan tanda kapur sirih dipipi sirna


Penglihatan ketiga Jin tanpa kepala mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih kelengan sijin tanpa kepala

Jin tanpa kepala dengan tanda kapur sirih dilengan sirna


Penglihatan keempat Rangda mendatanginya

Tenang dan berani Mencolekkan kapur sirih ketubuh sirangda

Rangda dengan tanda kapur sirih ditubuh sirna


Malam mulai akan habis berganti dengan pagi

Langit memerah, subuhpun bersua

Melangkah pergi pemuda pemberani menemui eyang lagi

Berjumpa dengan eyang dan menceritakan penglihatan dan pengalamannya

“assalamualaikum eyang” salam sipemuda pemberani “walaikum salam” jawab eyang “aku telah menyelesaikannya, namun biasa saja dan tidak terjadi apa2 eyang” “sukur kepada gusti allah..karena pencerahan dan pelajaran telah diberikan padamu” jawab eyang “pelajaran apa eyang ?” bertanya sipemuda pemberani

Eyang berjalan masuk kedalam rumah sembari kembali membawa sebuah cermin. “apa yg kau lihat dan dimana kau colekkan kapur sirih itu” bertanya eyang “aku melihat macam-macam mahluk halus, mulai dari harimau besar sampai rangda” jawab pemuda “kucolekkan kapur sirih didahi sampai badan mahluk halus yang aku jumpai” lanjut pemuda itu menjelaskan “coba kemari dulu duhai anakku” perintah eyang “lihatlah cermin ini”

Sipemuda beringsut mendekati eyang dan lantas bercermin, kaget..tertegun..menggigil “aku tidak percaya..aku yakin telah mencolekkannya didahi sampai tubuh mahluk halus yang kujumpai” ucap sipemuda pemberani “begituah hakekat hidup anakku, kita bagai bercermi, apa yang kau lihat tadi malam adalah sisi gelap dirimu sendiri, pikiran kusutmu sendiri, nafsu saiton yang ada didirimu sendiri, yang diciptakan oleh ketakutanmu sendiri..sampai-sampai kamu tidak paham bahwa yang dicolek dengan kapur sirih sebenarnya adalah dirimu sendiri. kendalikanlah harimau besar, mahluk mengerikan, jin tanpa kepala, rangda yang ada dijiwamu dan hatimu dengan colekan kapur sirih keTuhanan.

Taburkanlah dan colekla semua mausia dengan kapur sirih keTuhanan, harmonilah kita hidup..tentram satu dengan yang lain…dan jangan melihat dari bentuk wujud..karena wujutnya adalah wujudmu..untuk apa saling berperang, mencaci, menjelekkan sesama..!! karena yang dijelekkan dan dicaci serta diperangi sebenarnya juga dirimu sendiri sebagaimana kau colek mahluk halus itu namun sebenarnya yangkau colek adalah dirimu sendiri yang masi diselimuti oleh nafsu” jelas eyang kepada pemuda pemberani itu. Sipemuda pemberani lemas lunglai sembari menatapi wajah dan tubuhnya dicermin yang penuh dengan colekan kapur sirih.

Mengenal akan diri sendiri…bercermin dan terus ingat dan waspada akan diri..memasuki dan merenangi samudra tanpa batas..tiada namun ada…endhi kaula endhi gusti..byarrr terang benderang..tertinggal hanya aku, diri sendiri didalam kesadaran nama dan sifatNYA.[]

nggermamonk

29jan2010

puriparamitha-bali

Jan
28

oleh:nggermamonk

Suatu sore, diperumahan elit seputar Renon Denpasar, saya melihat seorang pemilik rumah mewah yang sedang santai sambil minum kopi, sedang menikmati indahnya taman mawar miliknya. Sejenak saya tertegun dan ingat akan situasi politik di Negara ini. Para elit politik yang duduk dikursi empuk dan mengemban amanat rakyat (baik elit dilingkaran istana dan dilingkaran senayan) tidak ada bedanya dengan seorang pemilik rumah mewah yang lagi duduk dengan kopi panas dan bangga melihat taman mawarnya yang sedang berbunga.

Pejabat Negara dan wakil rakyat sama-sama memegang prinsip politik taman mawar. Tidak ada didalam benaknya untuk mensejahterakan rakyat dan Negara.  Masyarakat hanya dibuat domplengan guna berjalannya faham ketokohan, popularitas dan kesejahteraan pribadi. Keadilan, kesejahteraan dan kemandirian untuk rakyat hanya retorika dikalangan elit dan pemimpin negeri ini. Mereka masih berkutat seputar masalah yang sempit dan bersifat imajiner. Mereka ngotot-ngototan dan berputar-putar pada suatu keputusan yang mereka buat sendiri. Kehormatan pribadi, keluarga, citra diri dan penampilan fisik dianggap lebih penting daripada bekerja membela urusan rakyat.

Sebenarnya, rakyat hanya menuntut agar dia bisa tersenyum (hidup lebih baik) dan bukan menuntut untuk tertawa (hidup makmur). Simple bukan…..!!

Untuk menjawab tuntutan rakyat yang simple itu, dibutuhkan seorang pemimpin Negara yang berani mengambil keputusan secara tegas dan tegar seperti batu karang demi kepentngan rakyat. Rasa memiliki Negara harus tumbuh dikalangan elit. Jika rasa ini telah tertanam, maka mereka akan senantiasa akan memelihara dan menjaga mawar-mawar dikebunnya, dan bukan hanya menikmati mawar-mawar tersebut dengan rasa keakuan, santai dengan minum kopi serta menunjukkan status keakuannya.

Mawar Berduri

Abraham Lincoln pernah mengutarakan, “dalam sebuah kekuasaan harus ada sentakan. Sentakan harus terjadi, keputusan harus diambil segera”. Disini SBY lebih memilih aman ketimbang mengambil sentakan dan gesekan dengan pemodal asing. Jika harus menjadi batu karang, ya harus kuat mempertahankan hak rakyat, bukan malah kendor dan terkesan kehati-hatian untuk sebuah popularitas. Dia harus menjadi peri penolong bagi rakyat agar supaya masyarakat bisa “tersenyum”.

Dalam catatannya Budi Wardoyo–Kader Komite Politik Rakyat Miskin-Partai Rakyat Demokratik dan Koordinator Divisi Penyatuan Politik Komite Persiapan Persatuan Pergerakan Buruh Indonesia— mengatakan: Sebagai kelanjutan dari kesepakatan perdagangan bebas 10 negara-negara ASEAN dengan CHINA yang telah ditandatangani pada tanggal 4 november 2002 di Phnom Phen-Kamboja- yang secara bertahap akan menurunkan bea masuk—hingga 0 %–semua barang dan jasa yang beredar di Kawasan ASEAN dan CHINA akan dibebaskan bea masuk, maka pada tanggal 1 januari 2010, sebanyak 7.881 pos baru akan dibebaskan bea masuknya.

Sebelumnya, baik sesama negara ASEAN—melalui AEC (ASEAN Economic Community) yang memayungi semua perjanjian perdagangan bebas ASEAN, dimana di dalamnya ada AFTA yang sekarang menjadi ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement), AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services)—maupun ACFTA (Asean China Free Trade Agreement), pos bea masuk yang dibebaskan jauh lebih banyak, bahkan dengan tambahan 7.881 pos baru yang dibebaskan, total pos tariff yang dibebaskan menjadi 54.457 (lima puluh empat ribu empat ratus lima puluh tujuh) atau 99,11 persen dari arus barang dan jasa di ASEAN.

Dalam sejarahnya FTA China dan ASEAN ( Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) merupakan FTA terbesar yang pernah ada, karena mencakup total populasi yang mencapai 1,9 miliar orang–China sendiri telah menjadi mitra dagang ketiga terbesar ASEAN dengan total nilai perdagangan sebesar 230 miliar dollar AS pada tahun 2008–

Menjadi kehebohan dimana-mana—sekalipun perdagangan bebas ini telah berlangsung lama—karena pada tahun 2010 inilah, ribuan pos bea masuk benar-benar diturunkan hingga 0 %–sebelumnya masih banyak barang dan jasa yang terkena bea masuk hingga 5-10 %, ada sebagian yang terkena bea 12,5 %– dan menjadi lebih heboh lagi, karena yang dihadapi oleh Indonesia, bukan hanya negara-negara ASEAN saja, melainkan ditambah dengan negara China, yang memilki keunggulan kuantitas dan kualitas produksi jauh di atas Indonesia.

Sebagai gambaran, untuk tekstil, sebelumnya pasar dalam negeri hanya mampu diisi oleh industri tekstil dalam negeri sebanyak 22 %, sementara 78 % adalah produk import—walaupun sebagian dari import ini dilakukan secara ilegal melalui penyelundupan—Dan dengan pembebasan tarif hingga 0 % pada tanggal 1 januari 2010 lalu, bisa dipastikan pasar dalam negeri akan semakin tergerus oleh produk import, sehingga akan banyak pabrik-pabrik tekstil yang tutup/bangkrut.

Seperti yang dinyatakan oleh APINDO Jawa Barat, bahwa potensi PHK di Jawa Barat mencapai 40000 buruh akibat ACFTA— Secara umum di Indonesia pada tahun 2008/2009 saja, sudah 429 pengusaha TPT kolaps dan lebih dari 200 industri di Indonesia yang gulung tikar akibat kalah bersaing dengan China—

Menurut Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Putri K Wardhani ada penurunan penjualan produksi jamu dan kosmetik sekitar 50 persen, bahkan ketika tarif bea masuk masih diberlakukan 5-10 %, apalagi jika tanpa tarif bea masuk.

Berat memang untuk memelihara taman mawar itu. Namun jika seorang SBY takut untuk masuk memelihara mawar tersebut, ya jangan pernah menjadi petani mawar. Bunga mawar memang banyak durinya, seorang petani sejati, tidak akan pernah menyerah terhadap duri mawar. Walaupun duri-duri itu membuat dia berdarah-darah, namun sang petani tetap akan memperjuangkan kehidupan mawarnya supaya berbunga dengan baik.[]

Nggermamonk

28jan2010

puri paramitha-bali

Jan
07

PEMBUKA *)

“Umatti! Umatti! Umatti?” Demikian kalimat yang diucapkan Sang Rasul Muhammad menjelang wafatnya.

Yesus Sang Masiha pun menjerit menjelang “kematiannya” di kayu salib: “Eloi, Eloi, Lama Sabakhtani…”

Terkadang, Kesunyian itu memang tak tertahankan perihnya. Bahkan untuk seorang Rasul dan Sang Masiha sekalipun. Tetapi, kita yang sekarang memuja mereka, bahkan tetap tuli terhadap “Jerit-Kesunyian” itu. Sama seperti dulu juga, para pengikut telah tuli dan meninggalkan mereka. Sayang sekali.

Menjelang kematiannya, Buddha Siddharta terbaring sendiri di tepi hutan menahan sakit di perut akibat diracun oleh salah satu muridnya. Dunia memang terlalu angkuh untuk memahami Wajah-Keheningan seorang Buddha. Sayang sekali.

Ya, sayang sekali, sampai saat ini, kita belum juga menyadari bahwa Rasul, Sang Masiha, atau Buddha tak pernah lahir dan tak pernah mati. Kita semua tetap buta dan tuli untuk menyadari “Fakta” yang sedemikian jelas ini. Kita tak bisa mendengar “Jerit-Kesunyian” mereka, kita tak bisa melihat “Wajah-Keheningan” mereka. Dan, itulah sebabnya, kita pun mengubah mereka jadi sekedar berhala. Kita menjadi penyembah benda mati, mengikuti dogma-dogma yang mati, karena hati kita mungkin sudah lama mati.

Ya, sayang sekali, kita tak bisa “Hidup” bersama mereka. Kita menolak Spirit dari ritual, mencampakkan Jiwa dari agama, menolak Yang Maha Hidup, dan memeluk setumpuk “abu jenazah” yang bernama agama – benda mati yang berikutnya.

Jika kita memang bukan setumpuk “abu jenazah”, maka bagaimana mungkin kita bisa menjadi penyembah agama, menjadi para pembela agama dan bersiap membunuh atau dibunuh atas nama agama? Ilusi ini benar-benar tolol dan gila.

Tidakkah kita bisa menyadari “Fakta” yang sedemikian jelasnya bahwa kita ini bukanlah setumpuk “abu jenazah”, bahwa kita semua – tanpa kecuali – tak terpisahkan dari Yang Maha Hidup?

Tidakkah kita menyadari bahwa kita semua – tanpa kecuali – tak pernah lahir dan mati? Jika kita benar-benar dapat menyadari “Ini”, maka sudah saatnya kita “membakar” kitab-kitab suci kita – berhala dan benda mati yang kita puja – sumber segala sengketa dan pertikaian kita, dan membuang abunya ke Samudera-Keheningan.

Bakar! Bakar itu semua dengan “API-CINTA” yang menyala-nyala sekarang juga! Demikianlah kuhantarkan “Surah” dari Iblis ini: Kekasih dari Yang Maha Hidup dan Maha Sunyi.

Petunjuk Menikmati
Untuk mengiringi Pembacaan Surah Iblis ini, silahkan mengklik lagu berikut ini: http://www.facebook.com/profile.php?ref=profile&id=1365876242#/profile.php?v=feed&story_fbid=231490180765&id=1365876242&ref=mf

SURAH IBLIS

………………………………………………………………………….(Surah Iblis: Ayat 1 – 7)

“Kitab suci tak perlu dipuja-puja. Ia hanyalah anak tangga. Jika engkau sudah melewatinya, anak tangga tak perlu dibawa-bawa. Tinggalkan saja. Bila engkau ingin membakarnya, ya, silahkan saja.” (Surah Iblis: Ayat 8 – 12)

“Demi langit yang mekar di lipatan vagina! Terkutuklah mereka yang merajami para penzina.” (Surah Iblis: Ayat 13 – 14)

“Demi buah zakar yang menyimpan api! Terkutuklah kalian yang mencambuki para penjudi.” (Surah Iblis: Ayat 15 – 16)

“Bagaimana mereka bisa terus menyembah-Nya, sementara mereka terus mencuri kekayaan negara? Bagaimana mereka bisa mengaku pembawa rahmat, sementara mereka sibuk menipu rakyat?” (Surah Iblis: Ayat 17 – 18)

“Sesungguhnya, jika kalian bertemu orang-orang kafir di jalan, janganlah penggal kepala mereka, janganlah perangi mereka, namun peluklah mereka dan mintalah maaf atas kekafiran yang tersembunyi di dalam hatimu selama berabad-abad. Niscaya kalian akan menjadi umat pembawa rahmat.” (Surah Iblis: Ayat 19 – 20)

“Sesungguhnya, kekafiran dalam hatimu itulah yang telah membuatmu menolak keragaman, padahal itu jelaslah kenyataan yang tak terbantahkan. Dan saat kau menyadari kebodohan dalam hatimu, maka kau pun hanya melihat Kesatuan di segenap penjuru.” (Surah Iblis: Ayat 21 – 22)

“Apakah kalian berpikir Allah telah berhenti berkata-kata? Apakah kalian berpikir Allah telah bisu dan sekedar jadi penonton saja? Lampaui pikiran dan setiap saat kau dapat mendengar firman-Nya. Lampaui pikiran dan setiap saat kau dapat menatap wajah-Nya.” (Surah Iblis: Ayat 23 – 26)

“Dien-Mu adalah Dien-Ku, Dien-Ku adalah Dien-Mu.” (Surah Iblis: Ayat 27)

“Demi masa yang tak pernah berakhir! Sesungguhnya shalatmu, ibadahmu, hidupmu, dan matimu adalah sebuah Perayaan. Maka, rayakanlah itu dalam Keheningan.” (Surah Iblis: Ayat 28 – 30)

“Demi buah duku dan rambutan! Demi Kalam yang tak terkatakan! Sesungguhnya, jika kau tak berkenan akan isi suatu buku, maka tulislah suatu buku untuk melawan buku yang tak kausukai itu — bukan malah melarangnya. Bisa jadi buku-buku yang kaubenci pada suatu masa, justru mengungkap kebenaran yang ditutupi para penguasa. Begitulah sejarah berbagai kitab suci sepanjang masa.” (Surah Iblis: Ayat 31 – 35)

“Ketika seksualitas dianggap sebagai noda dalam kehidupan, sementara kalian diam-diam asyik menikmatinya pada waktu malam, maka kelak anak-cucumu akan menganggapnya sebagai persoalan yang lebih asyik untuk dipecahkan ketimbang melawan ketidakadilan.” (Surah Iblis: Ayat 36)

“Demi kupu-kupu yang beterbangan, demi bunga-bunga yang bermekaran, sesungguhnya Kami telah menurunkan Kalam yang membawa kedamaian agar kalian dapat saling berkasih-sayang, agar kalian dapat saling berbagi terang, dan bukan untuk saling berperang.” (Surah Iblis: Ayat 37)

“Demi bukit-bukit yang berlari, demi langit yang seluas hati, barangsiapa yang mencintai kata-kata Ilahi lebih dari mencintai sesama mahluk di bumi, sungguh ia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Surah Iblis: Ayat 38)

“Tanyakan kepada para pembenci: Manakah yang lebih mulia di sisi Yang Maha Suci, menumpahkan darah saudaramu di bumi, ataukah menitikkan airmata atas kebutaan hatimu sendiri?” (Surah Iblis: Ayat 39)

“Sesungguhnya, telah Kami ciptakan surga dan neraka di dalam pikiran orang-orang yang masih membutuhkannya. Namun, bagi mereka yang telah membakar berhala pikirannya dengan Api-Cinta, mereka pun kekal di dalam lindungan Yang Maha Nyata.” (Surah Iblis: Ayat 40)

“Wahai, kalian Anak-Cucu Hawa, dulu telah kuingkari Keilahian pada Tubuh-Adam, hingga aku pun terpisah dari Yang Maha Nyata. Aku pun menjelma jadi pengembara malam. Kini, kusadari, seluruh semesta beserta isinya adalah perwujudan dari Yang Maha Nyata. Maka, ijinkan kini kubersujud mencium ujung kaki-Mu, duhai, Anak-Cucu Hawa.” (Surah Iblis: Ayat 41)

“Wahai, kaum munafik, kalian menaikkan persoalan bertemunya dua kelamin sebagai hal yang utama, sesungguhnya itu cumalah siasah untuk mengalihkan penjarahan kekayaan negara yang telah kalian lakukan. Kalian berharap bayangan kalian di mata rakyat tetap putih tak bernoda, lalu dengan angkuhnya kalian berkata: Lihatlah, kami telah menyelamatkan moral umat dari kejahatan kelamin manusia. Sesungguhnya, hanya mereka yang Sadar, yang tak akan tertipu oleh siasah keji itu.” (Surah Iblis: Ayat 42 – 44)

“Wahai, kaum munafik, kalian seperti rabbi-rabbi Yahudi yang berkomplot dengan penguasa Romawi. Kalian telah menyalibkan ‘Anak Manusia’ dan memfitnahnya sebagai penghujah Tuhan. Sesungguhnya kalian hanya takut pundi-pundi uang yang kalian pungut dari pajak rakyat menjadi berkurang. Lalu tanpa malu kalian kibarkan panji-panji perang, lalu kalian redam setiap suara berbeda sebagai fitnah yang keji. Lalu kalian berpikir segala siasah politik yang kalian lemparkan itu akan menghantar kalian ke taman firdausi, seolah Tuhan Yang Maha Kuasa — yang kalian sembah lima kali sehari — dapat kalian siasati dengan dalih penegakan syari. Sungguh, kalian telah menipu diri sendiri!” (Surah Iblis: Ayat 45 – 50)

“Wahai, kaum munafik, kalian sibuk membuat hukum untuk mencambuk para penjudi, kalian sibuk mensiasah aturan untuk merajam para penzinah sampai mati, namun sekutu kalian yang terus ‘menzinahi’ anggaran negara dapat kalian maklumi. Sungguh, kebenaran mana lagi yang akan kalian hujahkan kepada Kami, sementara kalian terus-menerus ‘memperjudi’ hak asasi rakyat negeri ini? Sungguh, kalian telah menipu diri sendiri!” (Surah Iblis: Ayat 51 – 53)

“Katakan kepada para penyembah batu: Jika kalian mencintai Pembawa Pesan Terakhir itu, mengapa kalian tinggalkan ia sendirian meregang nyawa di dalam biliknya, mengapa kalian malah sibuk berbagi kekuasaan tatkala wafatnya, mengapa kalian bunuh keluarga dan anak keturunannya? Dimanakah itu para sahabat yang dulu berbaiat sampai mati? Wahai, kaum penyembah batu, kelak kalian akan saling bertikai dan membunuh sesama kalian sendiri, kelak kalian akan berbangga untuk membunuh diri kalian sendiri. Sungguh, kalian termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Surah Iblis: Ayat 54 – 57)

……………………………………………………. (Saya masih menunggu ayat-ayat yang berikutnya. Semoga Sang Iblis masih berkenan menurunkan ayat-ayat-Nya. Tertanda: Tukang catat Surah Iblis)

Catatan:
*) Bagian “Pembuka” ini diambil dari Catatan Arief Rahman (http://www.facebook.com/#/note.php?note_id=220900599476)

Des
24

cetak.kompas.com
Sabtu, 19 Desember 2009 | 02:58 WIB

Oleh Hasibullah Satrawi

Sebagai seorang Muslim, penulis mengucapkan selamat hari raya Natal kepada saudara-saudari Kristiani di mana pun berada.

Bagi seorang Muslim, mengucapkan selamat hari raya Natal bukan hanya menjadi kesadaran persaudaraan, melainkan tuntunan keimanan yang sangat mendasar. Karena Nabi Isa atau Yesus menegaskan (sebagaimana disampaikan Al Quran), keselamatan atas diriku ketika dilahirkan, ketika meninggal dunia, dan ketika (nanti) dihidupkan kembali, Qs 19: 22.

Dalam konteks negara majemuk seperti Indonesia, ucapan selamat hari raya Natal merupakan salah satu bentuk kesadaran kebangsaan yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara; bahwa Indonesia adalah negara bagi semua agama yang ada di haribaan Bumi Pertiwi; bahwa setiap pemeluk agama memiliki kebebasan untuk merayakan dan menjalankan keyakinannya; dan bahwa penganut satu agama di Indonesia harus menghormati penganut agama lain.

Kerukunan

Bagi agamawan, mengucapkan selamat kepada umat agama lain dalam merayakan hari besar keagamaan, seperti Natal, mempunyai makna yang sangat penting. Selain tuntunan agama, ucapan selamat bagi seorang agamawan bisa juga karena menjadi langkah awal untuk menciptakan kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupan umat beragama, terutama dalam kehidupan bangsa majemuk seperti Indonesia.

Apa yang dilakukan oleh agamawan di Mesir bisa dijadikan sebagai contoh oleh para agamawan di Tanah Air. Dalam persoalan hari raya Natal, contohnya, sejumlah agamawan terkemuka di Mesir, seperti Grand Syeikh Al-Azhar Kairo, Sayyid Muhammad Thanthawi, tak hanya membolehkan seorang Muslim turut merayakan hari raya Natal. Lebih daripada itu, mereka memberikan keteladanan baik dengan menghadiri undangan perayaan Natal umat Kristen (Koptik) di sana. Momen-momen damai seperti ini digunakan oleh sejumlah agamawan di Mesir untuk mengukuhkan tali persaudaraan kebangsaan, mengukuhkan bangunan perdamaian, dan menghormati segala jenis perbedaan.

Begitu pun sebaliknya, sejumlah pemimpin Kristen (Koptik) di Mesir turut merayakan dan mengucapkan selamat ketika hari raya keagamaan umat Islam tiba. Suasana damai, kondusif, dan penuh persaudaraan menyelimuti kehidupan masyarakat di sana, dimulai dari kalangan agamawan kemudian diikuti oleh segenap umat dan pengikutnya.

Peran agamawan seperti di Mesir memberikan sumbangsih cukup besar bagi terjaganya hubungan damai dalam kehidupan masyarakat Mesir, terlepas apa pun agama ataupun kelompoknya. Setidak-tidaknya masyarakat Muslim di sana tidak diharamkan bila turut merayakan Natal bersama sahabat atau kerabat yang beragama Koptik.

Pengalaman Mesir seperti di atas sangat patut dipertimbangkan. Sejauh ini, konflik berbau agama jarang terjadi di Negeri Piramida itu.

Melahirkan ketegangan
Hal inilah yang jarang terjadi dalam kehidupan umat beragama di Tanar Air. Peran agamawan sangatlah terbatas dalam mendorong bangsa ini terbebas dari konflik agama. Sebaliknya, peran dan keterlibatan agamawan yang cukup masif terjadi dalam kehidupan politik, apalagi pada saat menjelang pemilu.

Hingga hari ini, konflik antaragama masih terus membayang, bahkan juga konflik intraagama. Umat beragama tidak disuguhi pemandangan damai dari kalangan agamawan yang mengucapkan selamat kepada umat agama lain dalam merayakan hari besarnya, termasuk hari raya Natal. Dan hingga hari ini masih terdapat sejumlah pihak yang mengharamkan hadir pada perayaan Natal bagi seorang Muslim atau hari raya agama lainnya.

Pengharaman seperti di atas tidak melahirkan apa pun, kecuali ketegangan dalam kehidupan umat yang berbeda agama. Pihak paling diuntungkan oleh fatwa seperti ini adalah mereka yang ”bersyahwat” politik. Bangsa, masyarakat, dan agama adalah pihak yang paling dirugikan oleh pengharaman seperti di atas yang merupakan akibat tak langsung keterlibatan kaum agamawan dalam dunia politik pragmatis yang cukup masif, baik perpolitikan nasional maupun lokal.

Dikatakan akibat tidak langsung karena tidak semua dan tidak setiap saat agamawan melakukan ”politisasi agama” dalam bentuk fatwa-fatwa politis atau lainnya. Harus jujur diakui, masih terdapat sekian agamawan yang turun ke kancah politik dengan niat tulus-ikhlas dan membawa tujuan perjuangan murni. Namun, agamawan seperti ini tampak sangat terbatas.

Natal adalah momen penting yang bisa digunakan oleh kaum agamawan untuk menyampaikan sabda perdamaian, kasih sayang, dan menghormati perbedaan keagamaan. Silaturahim antaragamawan dapat dilakukan dalam momen-momen keagamaan seperti Natal ini. Hingga umat beragama terbiasa dalam menghormati perbedaan dan perayaan hari besar agama lain.

Hasibullah Satrawi Alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir; Aktivis Moderate Muslim Society, Jakarta

Des
18

Badri, bukanlah satu-satunya orang yg mengalami marginalisasi oleh sistem pendidikan kita yg salah kaprah seperti ini. Tentu jika ditelisik lebih jauh, boleh jadi ada ribuan kasus seperti ini yg luput dari perhatian media dan kita semua. Tulisan berikut ini merupakan ironi di negara yg konon berbhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa & berlandaskan Pancasila. Sayang, generasi kita tdk pernah memahami semboyan dan pandangan hidup yg indah tsb…


Mata Kuliah Kaharingan
Oleh : Noorhalis Majid

Badri namanya, seorang mahasiswa antropologi FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Semester ini dia kebingungan karena harus memilih mata pelajaran agama yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Dalam daftar mata kuliah agama yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa tidak tercantum Kaharingan sebagai agama yang dianut Badri. Dia harus memilih salah satu agama sebagai mata pelajaran perkuliahan, tahun lalu mata kuliah ini sengaja tidak dia ambil agar dapat bernegosiasi dengan pihak akademik, namun pihak akademik belum memberi alternatif pilihan bagi mahasiswa seperti Badri penganut Kaharingan. Semester ini sudah tidak mungkin dihindari, mata kuliah agama harus diambil karena menjadi mata kuliah wajib disemua fakultas.

Pengalaman Badri ternyata bukanlah pengalaman pertama mahasiswa Kaharingan yang kesulitan dalam mengambil mata kuliah agama. Senior-senior Badri yang juga memiliki kesempatan melanjutkan kejenjang perguruan tinggi mengalami hal yang sama. Dengan terpaksa mereka memilih salah satu agama sebagai mata pelajaran yang diambil. Sebut saja Jhonson, baru bisa lulus mata kuliah agama Islam setelah mengambil empat kali berturut-turut. Jhonson selalu gagal melewati mata kuliah ini pada bagian praktik. Dibagian ini semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah agama Islam harus bisa mengaji, praktik wudhu dan sholat. Jhonson selalu mendapat nilai jelek, D bahkan E, karena tidak dapat mempraktikan pelajaran yang telah diberikan.

Sekarang Badri mengalami hal yang sama sebagaimana dialami Jhonson, kalau harus mengambil mata kuliah agama yang telah tersedia maka resikonya mungkin sama dengan Jhonson. Tetapi lebih jauh dari pada itu ada ketidakadilan yang dirasakan Badri, kenapa Kaharingan tidak diakui dan tidak ada dalam mata kuliah? padahal Kaharingan merupakan agama asli penduduk Kalimantan dan usianya lebih tua dari agama lainnya yang ada dalam mata kuliah.

Masalah Badri sesungguhnya bukanlah sebatas masalah seorang mahasiswa, ini adalah masalah sistem dan kurikulum perkuliahan yang mengingkari komitment realita kebhinekaan masyarakat Indonesia. Pendidikan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia justru mengingkari komitment kebangsaan atas Indonesia yang plural.

Masalah ini mungkin juga sedang dialami oleh Badri-Badri lainnya dari Sunda Wiwitan, Parmalin, kelompok penghayat dan berbagai agama lokal yang jumlahnya sangat banyak. Dimana pendidikan telah mendiskriminasi agama lokal dan tidak memungkinkan menjadi pelajaran di sekolah maupun perguruan tinggi. Di sekolah-sekolah agama dan theologia yang mengajarkan perbandingan agama-pun, bahkan tidak melirik agama lokal sebagai bagian dari kuliah perbandingan agama. Agama lokal tetap hidup di lokal, semakin lokal, termarjinal dan mengalami pemusnahan sistematis.

Kelembagaan adat Dayak Meratus yang menganut agama Kaharingan kemudian mengajukan usulan agar mahasiswa dari Kaharingan mendapat pelajaran dari Kaharingan pula. Negosiasi ini berhasil dilakukan setelah semakin banyak mahasiswa beragama Kaharingan yang berhasil kuliah dan mengalami kendala dalam pelajaran agama. Kenapa disebut “berhasil kuliah?”, karena selama ini penganut Kaharingan memang sangat sulit mengecap pendidikan, selain soal fasilitas karena tempat tinggalnya yang begitu jauh di wilayah pegunungan Meratus, juga kebijakan administrasi kependudukan yang hanya mengakomodir penduduk dengan agama yang telah ditetapkan. Persoalan sulitnya membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan akte lahir berbuntut pada sulitnya mengecap dunia pendidikan formal dan hak-hak ekonomi, sosial, budaya.

Dizaman Orde Baru, penganut Kaharingan dimasukkan dalam agama Hindu, dan disebut dengan Hindu Kaharingan. Padahal antara Hindu dan Kaharingan sangat jauh berbeda, Kaharingan tidak mengenal Pura, dan Hindu tidak mengenal Balai Adat. Kaharingan tidak kenal Pedande dan Hindu-pun tidak kenal Balian. Tetapi karena negara begitu arogan, maka agama Kaharingan harus menjadi Hindu Kaharingan. Di beberapa daerah malah dipaksa membuat kitab suci, menyebutkan nabi-nabi pembawa ajaran dan menetapkan hari suci keagamaannya dengan penanggalan yang tepat. Parameter suatu agama tertentu dipaksakan menjadi ukuran bagi agama lainnya dan akhirnya menghilangkan identitas aslinya.

***

Lama berselang, hasil negosiasi akhirnya membolehkan mahasiswa Kaharingan mendapat pelajaran agama dari Tokoh Kaharingan yang direkomendasikan kelembagaan adat. Soal-soal ujian agama Kaharingan diolah oleh tokoh Kaharingan dan nilainya setara dengan agama lainnya yang resmi tercantum dalam mata kuliah.

Hasil keputusan yang menggembirakan ini hanyalah kebijakan kampus yang tidak memiliki kekuatan hukum. Mungkin kebetulan karena rektornya lagi sadar, dekannya lagi baik atau bisa jadi karena segenap civitas akademik yang dilobby para tokoh adat sedang tidak konsent. Tidak ada jaminan Badri lainnya akan mengalami persoalan yang berulang diwaktu akan datang, bila tidak ada keputusan yang memiliki kekuatan hukum, yang memberi pengaruh pada sistem perkuliahan dan kurikulum di kampus-kampus dan sekolah formal. Dunia pendidikan semestinya menjadi pelopor dalam mempertahankan komitment kebangsaan yang Bhinneka Tunggal Ika.

noorhalis.majid@gmail.

nggermamonk//18des09//sekret.mpa.msb.undiknas//bali

Des
17

Dalam hening yang sangat dalam ada ketenangan yang menyelimuti kalbu

bersama kedamaian jalan terbuka menghantar ke pusat cahaya jiwa sang kekasih

ditelah masuk menembus area tak terbatas ruang dan waktu, melompat keluar dari logika sempit sendiri

disana terhampar suatu pemandangan kejadian tentang kelahiran Kristus Sang Masiha yang penuh misteri

Dalam keadaan sadar terjaga, jiwa melesat mendekat ke depan seorang ibu menggendong bayi mungil

bersinar cemerlang bak seribu matahari menyatu di keningnya dengan sinar bintang melesat dari matanya

Dialah KRistus, Sang Masiha, Sang Ekanthamukti yang namanya hanya dikenal oleh Pencipta-nya sendiri

Sembah sujud begitu spontan saat hati dan jiwa menyadari kemuliaan sang Anak Manusia ini

Layar kejadian terpampang di depan mata namun terasa ikut ambil bagian dalam permainan

seorang pria muda dengan cahaya berkilau dari wajahnya menatap lembut kepada sang pelihat

“Akulah cahaya” kata itu keluar dari bibir berkilau disertai kedamaian luar biasa menyelimuti roh

berbarengan dengan kata itu jiwa memahami Dia-lah Yang terlahirkan, Yang sudah lahir dan Yang akan lahir

“Ini bukan tentang perayaan kelahiran fisik, ini adalah kejadian kelahiran alam semesta baru

kesadaran baru yang muncul ke dunia gelap agar bersinar kembali seperti sediakala

Ini bukan tentang perayaan sosok pribadi terkagumi dan terhebat yang pernah ada di muka bumi

tapi tentang mengingatkan setiap jiwa pada kesadaran akan JALAN, KEBENARAN DAN HIDUP”

“Dunia mengetahui Sang Masiha, Sang Kristus yang hebat, tapi mereka tidak mengenal DIa

Mereka merayakan kelahiran Anak Manusia, tapi mereka tidak tahu makna dari perayaan terhebat ini

Bagi mereka perayaan sedang terjadi di luar dengan segala kemeriahan dan kemewahan

Tapi di dalam hati setiap jiwa, Sang Kristus tak ada yang mau membantu persalinan kelahirannya”

Dimanakah mereka saat Kristus lahir di dalam relung hati diri setiap orang yang merasa dekat pada-Nyaa?

Kenapa mereka tidak pernah ada di dalam saat hari bahagia itu terjadi? kenapa mereka selalu ada di luar?

Karena mereka tidak tahu Kristus, karena mereka tidak kenal Kristus, karena mereka tidak memahami-Nya

Dan saat jiwa bersama-Nya melihat kelahiran Kristus di dalam diri jiwa itu sendiri, hanya sedikit yg datang

Dengarkan senandung pilu orang yang telah membiarkan Kristus lahir di dalam hati dan jiwanya

yang telah mengambil air kehidupan dan membiarkan cahaya kesadaran hidup mengembang di dalamnya

lewat praktek ajaran kehidupan dan segala disiplin diri yang telah diarahkan oleh Sang Kebenaran

terdiam terpaku memandang jiwa-jiwa sombong yang mengaku kenal dan dekat, padahal buta hatinya

Lihatlah di dalam diri, di kedalam jiwa, di kedalaman kesadaran spiritual yang jiwa agungkan

katakan dengan jujur apakah kebenaran sederhana yang sudah kau pahami selama ini?

ataukah semua itu hanya tempelan pengetahuan ajaran suci tanpa praktek yang tertempel di cermin diri?

hanya sekedar itukah dirimu senang dan menemukan kebahagiaan semu dari spiritual semu?

Bila Sang Kristus datang ke dalam hidup sang kekasih, Dia tidak akan dikenali sebagai pendamai

tapi pencipta kerusuhan bagi pikiran dan logika terbatas sang kekasih, peperangan-lah yang DIa bawa

namun sang kekasih tidak mengenal-NYa dan mengatakan perusuh itulah setan laknat berhati jahanam

yang telah merusak kedamaian dan ketenangan dari kebahagiaan palsu ciptaan Maya Cantik Mempesona

Dengan segala dalih keterbatasan dan kemanusiaan yang wajar, jiwa meninggikan podium di atas langit

pertanda bagi setiap manusia bahwa ajaran Sang Masiha sungguh luar biasa bagi kita semua di bumi

sayang beribu sayang, hal itu juga memberi tanda tidak pantas bagi siapapun menyamai-Nya

apalagi megikuti ajaran kehidupan-Nya, hanya bagi Dia sajalah semua itu bisa dilakukan, TAPI KITA TIDAK!

Dulu bayi itu lahir dengan tawa dan senyum merekah bagai mentari terbit dari ufuk timur

karena kelahiran dimaknai dengan kesadaran akan kebangkitan spiritual pada jalan kehidupan di hati

namun sekarang bayi itu lahir dengan wajah musam seakan enggan keluar dari rahim sang ibu

karena kelahiran dimaknai dengan kepalsuan dan ketidakmengertian arti turunnya firman menjadi daging

Duhh Gusti Prabu yang terkasih, mohonkan ampun pada jiwa-jiwa yang terlena dengan nestapa

mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan di atas bumi nan gersang dan gelap gulita

sebab para pembawa obor cahaya kebenaran TUhan telah membiarkan apinya tertiup angin

dan cahaya kehidupan menjadi pembawa kegelapan dari si buta hati yang berjaya

Saatnya berpesan untuk diri sendiri dan bagi siapa saja yang mau mendengar keluh kesah ini

jagalah kesadaran diri dan ingatlah arti kelahiran seorang Mesias, Sang Masiha di dalam diri

bentuknya berupa kesadaran suci dengan praktek disiplin diri lewat pengalaman hidup sehari-hari

berpegang pada ajaran KASIH dan jalan kebenaran hidup yang TIDAK MENGHAKIMI apapun

Salam INdonesia,

Penyelam Kehidupan

trims to : penulis muda spiritual indonesia

17des09

nggermamonk

puri paramitha-bali

Des
09

Mengapa harus putih untuk dibilang cewe cantik ?

Mesin-mesin pengeruk uang dalam era globalisasi bergerak menjerat kaum hawa atau yang biasa kita kenal dengan istilah cewe atau wanita. Produk kecantikan yang gila-gilaan iklanya dimedia selalu menampilkan seorang cewe cantik berkulit putih. Pikiran kita seakan-akan dihipnotis agar percaya bahwa cewe yang berkulit putih itu pasti cantik. “Terus bagai mana dengan cewe yang berkulit hitam atau sawo matang (cewe Indonesia) ? berarti nggak cantik dong..??”. Bagi cewe yang memiliki kesadaran dan ogah dengan jargon Cantik Harus Putih pastinya akan masa bodoh dengan iklan dan hipnotis massal dimedia itu. Iklan itu sebagai mesin pembobol kantong kaum wanita dan membuat wanita menjadi robot kecantikan yang selalu ngikut apa kata perancang robot kecantikannya. Siperancang mengatakan kalo cewe itu putih maka akan dibilang cantik, sehingga si-robot-pun ngikut saja untuk merombak total kulit dan badannya yang asli.

Kosmetik dan apalah namanya alat-alat untuk bedah plastic merupakan candu bagi kaum hawa. Tidak sedikit dari sebagian wanita-wanita Indonesia merasa tidak percaya diri dengan kulit dan tubuh bawaan lahiriyah sehingga dengan mudahnya bisa dipoles menjadi robot iklan. Tak jarang banyak yang beranggapan “inikan uang-uangku, wajar bila aku memanjakan tubuh ini”. Semakin kita memiliki anggapan itu, maka semakin suburlah mesin-mesin diskriminasi perbedaan warna kulit. Yang berkulit hitam atau sawo matang akan merasa minder dan berusaha menjadi robot kosmetik juga.

Semestinya wanita Indonesia yang sudah melekat dengan kulit sawo matang dan hitam manisnya tidak perlu malu, minder dan kebakaran jenggot (emang punya jenggot ya ??) dengan warna kulit aslinya. Sebaliknya, harus merasa bangga dan tidak mempersoalkan warna kulit. Semakin wanita terseret oleh mesin-mesin globalisai, semakin banyak pula pengkotak-kotakan status berdasarkan warna kulit. Saatnya bagi wanita Indonesia untuk merombak sugesti dari jargon “Cantik Harus Putih” kalu mau menjadi wanita merdeka yang apa adanya.

Barat itu putih dan Timur itu hitam

Pikiran kita selalu dicekokin dengan kalimat “orang barat atau bule itu berkulit putih dan cantik sekali, sedangkan orang timur atau pribumi itu berkulit hitam dan kurang sedap dipandang mata”. Kalimat itu senantiasa menghantui kaum wanita berkulit hitam dan sawo matang. Sukses rupanya para mesin pengeruk kantong membenamkan sugesti itu didalam pikiran orang-orang berkulit gelap. Uang bukan halangan untuk merombak total bawaan lahir, dan hasilnya jutaan rupiah mengalir kekantong juragan iklan.

Teman-temanku banyak mengatakan bahwa sebenarnya orang barat atau bule itu suka sama orang berkulit gelap, dan mereka bilang itu seksi. Nah mengapa kita malah merombak ke-seksi-an kita untuk pura-pura dan ikut-ikutan menjadi bule, padahal bule sendiri menganggap warna kulitnya yang putih itu membosankan dan biasa-biasa saja. Banyak bule yang datang ke Indonesia untuk berjemur di pantai untuk merubah warna kulitnya agar sedikit gosong. Bukankah itu suatu kebanggaan bagi kaum wanita yang memiliki warna kulit gelap dan hitam manis ?, ya..pastilah suatu kebanggan, lawong orang bule aja pengen dan ketagihan menjadi sawo matang.

Hilangkan pikiran barat itu putih dan cantik sehingga kita meniru-niru mereka untuk merubah warna kulit biar dibilang cantik. Semakin kita berpikir kearah sana, maka iklan “sebelum dan sesudah memakai produk ini” semakin marak. Coba kita lihat betapa diskriminasi warna kulit pada iklan-iklan yang mengusung kalimat “sebelum dan sesudah”. Sebelum memakai produk ini, pasti digambarkan dengan wanita yang berkulit sawo matang atau gelap dan berwajah muram. Lalu ada keterangan waktu disitu dalam pemakaian produknya, minggu pertama…minggu kedua..minggu ketiga..dst dan berubah menjadi gambar wanita yang berwarna kulit putih serta berwajah riang gembira. Betapa diskriminasinya telihat kental. Sehingga terbawa kepada si-pemakai produk itu, batinnya terpasung dan malu berbaur jika kulitnya tidak berwarna putih. Hari gini ke-mall dengan kulit gelap..??? nggak lage..!!. stop… nggak jamannya meinder dan terpasung dengan warna kulit.

Wanita merdeka itu percaya diri alias “PD”

Salut..itu kata-kata saya yang terucap melihat wanita Indonesia yang tidak terbawa arus dan ikut-ikutan jargon bualan. Keluarlah dengan bangganya tanpa harus merubah karakter asli. Kecantikan itu bukan dinilai dari warna kulit dan bentuk tubuh. Banyak yang sudah mengenal dengan istilah inner beauty, Inner beauty lahir dari sikap dan perasaan bersih tanpa ada praduga,hidup, tanpa prasangka negatif kepada apapun membuat kita menjadi lebih segar tanpa ada beban bathin, salah satunya yang harus kita jaga dalam menampilkan innerbeauty adalah perasaan bahagia, kejujuran dan kesetian. Bahagia dengan apa yang telah ada dan dimiliki, jujur pada situasi dan kondisi (tidak ikut-ikutan), setia dengan komitmen yang dipegang.

Cantik itu bukan dinilai dari lahiriyah saja tetapi ada unsur batiniah yang harus dilihat dan dimengerti. Untuk apa memoles lahiriyah jika hanya mendatangkan ego status dan ego golongan yang bermuara pada terkekangnya batin untuk menjadi manusia yang merdeka. Manusia merdeka itu manusia yang tidak ikut-ikutan, manusia yang memahami adanya manusia lain dan membuang jauh pengkotak-kotakan status. Disinilah dibutuhkan ke-cantik-an batiniah. Mengerti akan arti perbedaan, memahami apa yang diberikan-Nya. Warna kulit dan kecantikan lahiriyah bukan pedoman mutlak untuk seseorang dikatakan cantik yang sesungguhnya. Jadilah diri sendiri dengan memahami essensi perbedaan, maka itulah CANTIK DAN PUTIH yang sesungguhnya.

9desember2009

nggermamonk

puri paramitha-bali

Des
07

Di-ilhami dari sebuah karikatur temanku disebuah grup pecinta alam di www. facebook.com. sehingga aku mengartikan gambar itu dengan celotehanku secara bebas. mungkin tidak mewakili arti sesungguhnya dari gambar karikatur itu. Namun, disini aku berceloteh melewati jalur simbolik dari gambar-gambar itu. Karena sebuah gambar merupakan simbol yang sengaja disuguhkan oleh pembuatnya supaya siapa saja yg melihat menjadi mengerti akan esensi gambar dan kondisi alam pikiran si penggambar.

Alam mulai mengeluarkan bau busuknya, sampai-sampai masyarakat kecil pusing nyium racun yg keluar dr bumi ini, dia berkata “apa yg harus aku gadaikan lagi, sampai aku telanjang. namun mereka tdk mau tau.  (disimbolkan olh bung chandra: bebek yg tanpa bulu).

Percaya tidak percaya..banyak anjing berkepala kerbau di pulau dewata ini..merekalah (anjing berkepala kerbau) yang menggadaikan tanah bali dgn alasan keindahan alam dan pariwisata. dalam agama hindu kerbau atau sapi merupakan simbol dari kendaraan suci para dewa. anjing yg selalu kita kenal dgn hewan peliharaan yang terkadang menggemaskan terkadang mengerikan, merupakan watak orang-orang yang menggemaskan namun serakah mengerikan dalam menjual alam bali. sekarang marak dibali tanah-tanah suci digadaikan pada infestor. sipenggadainya ya orang-orang yang selalu menggemaskan dan mengerikan namun selalu memakai jubah suci agama, agama mereka peralat dan mereka pakai (pada gambar: kepala kerbau) untuk kekuasaan dan kesejahteraan sendiri (pada gambar: badan anjing). Kondisi ini yang mengakibatkan daerah pelataraan suci pura-pura dibali sudah menjadi villa-villa megah tanpa mengentongi izin dr pemerintah. (disimbolkan olh bung chandra: anjing berkepala kerbau).

Seorang petani tengah menangis dan berlinang air mata…dia bingung, dimana terasering-ku, dimana lumbung padi ku..sementara bebanku ini terus kupikul dan kutanam dalam lahan pengharapan. Sebuah budaya leluhur yang senantiasa sipegang dan dipikul mulai bergeser dan pudar dimakan globalisasi. Kebanggaan akan tanah leluhur yang selalu dijaga dalam hati,  jiwa dan selalu melekat disegala aktifitas masyarakat, lambat laun hanya sekedar menjadi baju penghias badan.(disimbolkan olh bung chandra: petani memegang benih)

Gunung dan pura sebagai simbol suci sudah tidak dihiraukan lagi..demi globalisasi dan pembangunan yang membabi-buta, dijual untuk dahaga infestor pariwisata. Wanginya asap dupa dan bunga-bunga disesajian bercampur aduk dengan baunya asap pabrik yang menyesakkan dada. Pelantunan kalimat-kalimat suci dari lontar, berganti rekaman suara yang didengungkan oleh alat-alat pengeras suara bikinan parik. (disimbolkan olh bung chandra: latar belakang karikatur; pabrik gunung dan pura)

Sehingga bung chandra menulis CEGAH DARI SEKARANG..penghijauan dan moratorium hutan. kembali pada konsep kedua dari konsep tri hitakarana (manusia dan alam). Dimana manusia adalah sebuah bagian dari alam dan alam merubakan bagian dari manusia itu sendiri. Manusia merupakan micro cosmos dari alam yang macro cosmos. Antara micro dan macro cosmos yang ada dialam ini tidaklah bisa dipisahkan. Jika kita menghayatinya, salah satu dari unsur itu dihilangkan maka akan ada kepincangan di-alam semesta ini. Hukum sebab akibat berlaku. (disimbolkan olh bung chandra: papan kayu dengan tulisan ; rambu-rambu)

Alam dan segala isinya merupakan tempat dan tanggung jawab kita selaku manusia agar senantiasa menjaga dan menggunakannya dengan seimbang dan cerdas. Alam bukanlah mahluk yang egois dan bengis. Alam selalu mau menerima apa saja yang manusia lakukan kepadanya. Kita menghabisinya dengan seenak nafsu kita saja, alam tidak menolak kok. Kita mengeruk hasil-hasil alam dengan rakusnya dan alampun memberikannya. Kita mengotori alam dengan sampah-sampah, diapun menerimanya.” nah..kalo ada bencana alam apa itu namanya ?? katanya alam nggak egois dan bengis ?”. Bencana alam merupakan sebuah hukum sebab akibat yang mutlak. Kita dengan bodoh dan rakus mengeruk hasil alam dan membuat kepincangan ekosistem. Jadi wajar toh ada akibatnya dari apa yang sudah kita buat menjadi sebab. Untuk itu sang karikatur Chandra Diantara menggambarkan itu semua untuk bahan renungan dan rambu-rambu untuk kita semua penghuni alam semesta ini agar senantiasa berlaku pandai dan bijak terhadap explorasi alam.

thx Chandra

nggermamonk–puri paramitha–bali

07des09 sore.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.